-->
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tenggara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tenggara. Tampilkan semua postingan

Alat Musik Tradisional Sulawesi Tenggara

Seperti halnya provinsi lain di pulau Sulawesi, provinsi Sulawesi Tenggara memiliki keragaman seni dan budaya. Mulai dari tarian tradisional dari Sulawesi Tenggara hingga lagu-lagu daerah Sulawesi Tenggara. Kali ini kita akan mengenal beragam kesenian musik khususnya instrumen atau alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara.

Beberapa alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yang dikenal antara lain ore-ore mbondu, kanda-kanda wuta, baasi, dimba atau yang lebih kita kenal dengan kendang, gong dan rebana. Instrumen musik tradisional tersebut adalah merupakan koleksi dari Musium Negeri Sulawesi Tenggara yang terletak di Jalan Abunawas No. 191 Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi museum ini berada di tengah kota dan berdekatan dengan Menara MTQ, sehingga masyarakat dapat dengan mudah berkunjung ke museum walaupun menggunakan transportasi umum.

 1. Alat musik Tradisional Sulawesi Tenggara - Ore-Ore Mbondu



Ore-ore mbondu adalah alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yang terbuat dari tembaga atau tulang yang telah dilubangi, kemudian diberi tali. Alat musik ore-ore mbondu ini pada zaman dulu digunakan oleh muda-mudi saat panen. Alat musik tradisional ore-ore mbondu ini dimainkan dengan cara ditiup.

 2. Alat musik Tradisional Sulawesi Tenggara - Kanda Wuta


Alat musik tradisional Kanda wuta adalah sebuah alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yang dimainkan dencan cara dipukul dan digunakan untuk mengiringi tarian lulo. Alat musik Kanda Wuta ini sudah ada sejak abad ke-10. 

Sekitar abad ke-10 daratan Sulawesi Tenggara memiliki dua kerajaan besar yaitu kerajaan Konawe (wilayah Kabupaten Konawe) dan Kerajaan Mekongga (Wilayah Kabupaten Kolaka) secara umum kedua Kerajaan ini serumpun dan dikenal sebagai suku Tolaki. Suku tolaki memiliki beragam seni tari diantaranya adalah tarian lulo dengan iringan musik kanda-kanda wuta.

Alat musik Kanda Wuta ini dibuat dari kayu, tanah liat, rotan dan pelepah sagu.

Kanda Wuta - Gambar : http://marianijalalon.blogspot.co.id/

 3. Alat musik Tradisional Sulawesi Tenggara - Baasi

Baasi adalah merupakan alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditiup.


Demikian Sobat 3 buah alat musik yang berasal dari Sulawesi Tenggara semoga menambah pengetahuan kita semua.

Referensi artikel : http://kekunaan.blogspot.co.id/2014/11/museum-negeri-provinsi-sulawesi-tenggara.html

6 Tari Tradisional dari Provinsi Sulawesi Tenggara

Selain memiliki beberapa lagu daerah Sulawesi Tenggara yang telah kita ketahui pada artikel yang lalu, provinsi yang berada di Jazirah Pulau Sulawesi ini juga memiliki keindahan seni tari / tari tradisional yang begitu mempesona.

Tarian tradisional dari Sulawesi Tenggara ini memiliki kekhasan gerak dan musik pengiring yang identik dengan Pulau Sulawesi. Dibawah ini 6 tari tradisional dari Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut antara lain :

1. Tari tradisional Sulawesi Tenggara - Tari Balumpa


Tari Balumpa Tarian tradisional dari Daerah Kabupaten Wakatoba yaitu daerah Binongko dan Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Tarian Balumpa adalah tarian tradisional yang mencerminkan kegembiraan masyarakat nelayan wakatobi Binongko dan Buton dalam menghadapi ombak demi menafkahi keluarga. Tari Balumba biasanya dipertunjukan untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan dari luar daerah.

Tari Balumpa dari Sulawesi Tenggara ini biasanya dimainkan oleh 6-8 orang penari, yang dilakukan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi bisa juga dilakukan oleh pasangan penari perempuan semua.

Para penari Balumpa menggunakan pakaian adat Wakatobi dengan iringan musik yang mempergunakan alat musik tradisional gambus dan gendang, tidak tertinggal suara  dendang biduan Balumpa.



2. Tari tradisional Sulawesi Tenggara - Tari Lulo

Tari Lulo adalah tari tradisional yang berasal dari Tokotua, Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Tari Lulo ini dilaksanakan dalam rangka ritual adat Tokotua atas rasa syukur dan terimakasih kepada Yang Maha Pencipta karena limpahan rezki panen beras yang melimpah.

Tari tradisional Lulo ini telah ada sejak zaman pemerintahan kerjaan kesultanan Buton, dimana beras sebagai hasil pertanian Tokotua untuk memperkuat pilar perekonomian Kesultanan Buton. Dan ungkapan syukur atas panen beras yang melimpah dituangkan dalam ritual adat Lulo.

Para penari Lulo terdiri dari 12 orang yang dibagi dalam 2 kelompok. Delapan penari putra memegang alu (Penumbuk Padi) yang menggambarkan pria yang menumbuk padi dan empat orang penari perempuan memegang nyiru sebagai alat penapis gabah, ditambah sapu tangan yang menggambarkan proses penapisan gabah.

Pakaian yang digunakan dalam tari tersebut merupakan ciri khas Kabaena dengan pakaian berwarna dasar hitam ditambah warna kekuning-kuningan dan kemerah-kemerahan.

Tari Lulo diiringi oleh musik tradisional Sulawesi Tenggara menggunakan alat musik tradisi seperti kendang. Saat ini Tari Lulo telah banyak mengalami perubahan dan kreasi sebagai seni pertunjukan modern.

Tari Lulo ditampilkan dalam rangka upacara adat penyambutan suku Tokotua terhadap tamu-tamu penting yang berkunjung didaerah tersebut. Selain itu Tari Lulo juga banyak dipergunakan sebagai ajang lomba dan kreatifitas masyarakat Sulawesi Tenggara.




3. Tari tradisional Sulawesi Tenggara - Tari Galangi

Tari Galangi adalah tarian tradisional yang berasal dari Kepulauan Buton Raya Provinsi Sulawesi Tenggara. 

Tari Galangi merupakan Tari Perang dalam Kerajaan/ Kesultanan Buton.Tari Galangi adalah ungkapan dan spontanitas gerakan dalam bentuk tari yang mewujudkan bagaimana penggunaan gala dalam menghadapi musuh. Di waktu damai tari ini merupakan kelengkapan kebesaran, keagungan serta kemulian Sultan. Tari ini dimainkan untuk mengiringi Sultan pada saat keluar istana dalam suatu tugas atau menyambut dan mengantar tamu Kesultanan.

Tarian Galangi ini terdiri dari sebelas kelompok, tiap kelompok terdiri dari tujuh orang. Pada zaman dahulu kelompok tersebut bertugas untuk mempertahankan Kerajaan/ Kesultanan bila ada serangan dari luar. Bila dalam keadaan aman, masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda-beda.

Busana yang dipergunakan oleh para penari Galangi adalah Pakaian Sala Kaitela (Celana Puntung). adapun perlengkapan yang mereka bawa antara lain Gala (Tombak), Tombi Male’i (Bendera Merah), Tombi Makuni (Bendera Kuning) dan Tamburu (Genderang).



Rujukan : https://jrt35.wordpress.com

4. Tari tradisional Sulawesi Tenggara - Tari Mangaru

Tari Mangaru adalah tari tradisional yang berasal dari Desa Konde Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Tari Mangaru menggambarkan keberanian laki-laki pada zaman dahulu dalam medan peperangan, yaitu bercerita tentang dua orang laki-laki yang sedang dalam medan peperangan. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana kedua laki-laki yang saling beradu kekuatan dengan menggunakan sebilah keris yang dipegang.

Tari Mangaru diiringi oleh alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yaitu kansi-kansi, Mbololo (gong) dan dua buah gendang yang terbuat dari kulit binatang. Musik yang mengiringi tarian ini bertempo cepat sesuai dengan semangat para penarinya. Alat musik tradisional ini dimainkan empat orang yang memang mahir dalam memainkannya. Irama musik pengiring tari ini berbeda dengan musik pengiring tari yang lain walaupaun alat yang digunakan sama.  

Tari Mangaru biasanya dipertunjukan dalam berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Bagi masyarakat Desa konde menyelenggarakan pesta panen setelah menuai padi menjadi suatu budaya yang berkesinambungan dan pada acara khitanan. Tarian ini menjadi ajang berkumpul semua orang kampung. Namun sayang, tarian ini sudah jarang bahkan sudah tidak pernah dipentaskan lagi. Saat ini tari Mangaru dipertunjukan pada saat penyambutan tamu.

Tari Mangaru pada saat ini banyak mengalami perubahan dan kreasi, namun tetap mempertahankan gerakan dasar perang sebagai ajang hiburan dan penyemangat.


Rujukan : http://sahirudinkambowa.blogspot.com, http://greatbuton.blogspot.com




5. Tari tradisional Sulawesi Tenggara - Tari Lumense

Tari Lumense berasal dari Kecamatan Kabaena atau Tokotu'a Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara. Kata Lumense sendiri memiliki arti Terbang Tinggi yaitu berasal dari bahasa daerah yaitu kata Lume (terbang) dan Mense (Tinggi).

Pada zaman dahulu tari lumense dilakukan dalam ritual pe-olia, yaitu ritual penyembahan kepada roh halus yang disebut kowonuano (penguasa/pemilik negeri) dengan menyajikan aneka jenis makanan. Ritual ini dilakukan agar kowonuano berkenan mengusir segala macam bencana. Penutup dari ritual tersebut adalah penebasan pohon pisang. Tarian ini juga sering ditampilkan pada masa kekuasaan Kesultanan Buton.

Seiring dengan perkembangan, fungsi tari Lumense pun mulai bergeser. Ada pendapat yang mengatakan bahwa tari Lumense bercerita tentang kondisi sosial masyarakat Kabaena saat ini. Corak produksi masyarakat Kabaena adalah bercocok tanam atau bertani, masyarakat masih melakukan pola tradisional yaitu membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian. Sementara parang yang dibawa oleh para pria menggambarkan para pria yang berprofesi sebagai petani. Simbol pohon pisang dalam tarian ini bermakna bencana yang bisa dicegah. Oleh karena itu klimaks dari tarian ini adalah menebang pohon pisang. Artinya, setelah pohon pisang tumbang bencana bisa dicegah.

Para penari menggunakan busana adat Tokotu'a atau Kabaena. Untuk para penari yang berperan sebagai perempuan memakai rok berwarna merah maron dan atasan baju hitam. Baju ini disebut dengan taincombo dengan bagian bawah baju mirip ikan duyung. Untuk penari yang berperan sebagai laki-laki memakai taincombo yang dipadukan dengan selendang merah. Kelompok laki-laki memakai korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri.

Tarian ini diawali dengan gerakan maju mundur, bertukar tempat kemudian membentuk konfigurasi huruf Z lalu berubah menjadi S, gerakan yang ditampilkan merupakan gerakan yang dinamis yang disebut moomani atau ibing. Klimaks dari tarian ini adalah ketika para penanari terus melakukan moomani kemudian menebaskan parang kepada pohon pisang, sampai pohon pisang itu jatuh bersamaan ke tanah. Penutup dari tarian ini adalah para penari membentuk konfigurasi setengah lingkaran sambil saling mengaitkan tangan lalu menggerakannya naik turun sambil mengimbangi kaki yang maju mundur. Tarian ini diiringi oleh musik yang berasal dari alat music gendang dan gong besar (tawa-tawa) dan gong kecil (ndengu-ndengu). Untuk mengiringi tarian ini hanya dibutuhkan tiga orang penabuh alat music tersebut sementara dalam memainkan tarian ini dibutuhkan beberapa anakan pohon pisang sebagai property pendukung.

Sumber : id.wikipedia.org




6. Tari tradisional Sulawesi Tenggara - Tari Dudenge

 Seperti halnya tari Lumense, tari tradisional dudenge adalah tarian yang berasal dari Kecamatan Kabaena. (belum ada rujukan)

Demikian Sobat tradisi, 6 tari tradisional dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Semoga bermanfaat.

Lirik Lagu Daerah Sulawesi Tenggara

Lirik Lagu Daerah Sulawesi Tenggara - Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, tepatnya berada pada koordinat 02°45' - 06°15' Lintang Selatan dan 120°45' - 124°30' Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Tenggara dibentuk berdasarkan UU No. 13 Tahun 1964 tanggal 22 September 1964.

Provinsi Sulawesi Tenggara beribu kota di Kota Kendari, terdiri dari beberapa suku bangsa yaitu bangsa Buton (23%), Bugis (19%), Tolaki (16%), Muna (15%). Adapun lagu daerah dari Sulawesi Tenggara adalah Peia Tawa-Tawa. Berikut ini lirik lagu dan klip video lagu daerah  dari Provinsi Sulawesi Tenggara :

1. Lagu Daerah Sulawesi Tenggara - Peia Tawa-Tawa


Peia tawa tawa                        [Bag.1]
Peia tawa tawa
Noamba Tepumbu..
Peia tawa tawa
Peia tawa  tawa
Noamba tepumbu..
      Tepumbu luale..
      Tepumbu anandonia..
      Ronga tono motuo..

Rombe kai kai                       [Bag.2]
Rombe kai kai
Noamba Tepali
Rombe kai kai
Rombe kai kai
Noamba tepali..
     Molulo molulo..
     Molulo luwuakono
     Molulo sambe menggaa
     Molulo Molulo
     Moulo luwuakono
     Molulo sambe menggaa

2. Lagu Daerah Sulawesi Tenggara - Tana Wolio

Tana wolio liwuto bau
Bura satongka auwalina
Iweitumo tana minaaku
Lembokanaa moraaku

Tula-tula morikana
Kumalinguakamea
Tabeana mancuana
Bemo sau-saua

Tula-tula morikana
Kumalinguakamea
Tabeana mancuana
Bemo sau-saua

Tana wolio lape-lapea
Ingkita dadi mangura




3. Lagu Daerah Sulawesi Tenggara - Wulele Sanggula


O……. Wulele Sanggula
O……. Wulele sangggula
Tumbuno walande
Porehuka mokole

Ooooo …… wulele wekoila
Anowai  inuangino  sangia
Sangia lohuene
Mokok lipu wuta

Ikita nggita  I unuaha
Pesorongano tarimaja wulao
Ikita nngita lunaha
Petiriano luale wajaula




3. Lagu Daerah Sulawesi Tenggara - Symponi  Bahteramas 

Diantara bentangan laut biru
Terdapat desiran yang indah
Bumi sulawesi tenggara dengan segala kekayaannya,,,,,
Kini saatnya kita bersatu dalam barisan

Mari semua bargandeng
Tangan kita bangun kesejahtraan
Masyarakatlah yang utama
Menuju msa depan cemerlang
kini saatnya kita kembangkan semua
Potensi yang ada

Tanah wolio terkenal aspalnya
Wuteno muna cantik alamnya
Tanah metongga berlimpah nikelnya
Wonua konawe jadi lumbung beras
Pulau hugo indah di wakatobi
Bombana kaya dengan hasil laut
Pesona budaya bumi kendari
Kini saatnya kita berkarya untk daerah kita
 

Copyright 2015 GURU PEMBELAJAR